Saat Kekerasan Dalam Sepak

Saat Kekerasan Dalam Sepak Bola Mengalahkan Logika

Saat Kekerasan Dalam Sepak Bola Mengalahkan Logika. Sepak bola sebagai sarana hiburan, sekaligus alat pemersatu bangsa. Sepak bola juga harus menjadi media pencerahan, karena sportivitas yang dikandungnya. Inilah logika yang harus ada dalam ranah kesadaran, setiap pecinta sepak bola di tanah air. Inilah “idiologi” yang harus ditanamkan pada stakeholders sepakbola.

Jika logika itu dimiliki, maka getaran semangat kebersamaan akan terus terasa pada pecinta sepak bola. Bahkan urat nadi sportivitas akan terus bergejolak dalam dinamika sepak bola Indonesia.

Jadi kapan pun dan kapan pun pertandingan sepak bola diadakan, itu bukan hanya sesuatu yang istimewa. Tetapi setiap pecinta bola yang terlibat juga istimewa, karena menyulut energi pencerahan.

Saat Kekerasan Dalam Sepak Bola Mengalahkan Logika

Pepatah jurnalis dan kolumnis Amerika Patrick Jake O’Rourke dalam memimpin artikel ini, sebenarnya adalah panduan esensi sepakbola. Sebuah pepatah yang memandu kita tentang cara berpikir dan bertindak untuk memahami sepak bola, logika yang benar.

Menggunakan logika adalah cara berpikir yang objektif berdasarkan fakta, prinsip, dan alur nalar yang benar. Bukan sebaliknya, bias logis, yaitu berpikir dengan melanggar semua, atau salah satu prinsip berpikir objektif.

Sementara elemen sepakbola kita sedang dalam tren positif, ditandai dengan lolosnya Tim Senior dan U-20 ke Piala Asia 2023 dan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-2O pada 2023, para pendukung juga harus bertanggung jawab untuk menjaga tren positif ini.

Mana logika membela, jangan sampai ‘bencana’ datang dan menggerus sepak bola Indonesia. Hanya karena bias logika, karena faktor emosi yang tidak terkendali. Terbukti bencana akhirnya datang dan Indonesia bisa kena sanksi FIFA.

Kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang tentu sangat disesalkan, karena merenggut ratusan nyawa. Hal ini tidak terlepas dari bias logis segelintir suporter yang tidak bertanggung jawab dalam menyikapi hasil pertandingan tersebut.

Bertindak tanpa menggunakan penalaran yang tepat pada akhirnya mengarah pada tragedi kemanusiaan. Bertindak sembrono bertentangan dengan prinsip sportifitas, karena Anda tidak bisa menerima kekalahan.

Tidak bisa melihat fakta dengan pikiran jernih, bahwa kalah dan menang adalah hal biasa dalam sebuah pertandingan. Inilah realitas masyarakat sepak bola yang belum tercerahkan untuk memaknai hakikat sepak bola. Tapi bersikeras datang ke stadion demi fanatisme semu.

Tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan Malang menjadi bukti bahwa kekerasan dalam sepak bola telah mengalahkan logika. Dimana sepak bola sebagai sesuatu yang istimewa, terdegradasi dan hidup tercerahkan, harus terdegradasi dalam konsekuensi logis logis.

Kasus memilukan di Stadion Kanjuruhan, menjadi titik hitam persepakbolaan nasional. Euforia yang dirasakan beberapa hari lalu saat Timnas Indonesia mengalahkan Curacao di FIFA Mactday berubah menjadi duka atas meninggalnya ratusan suporter sepak bola.

Sebuah ironi bagi masyarakat Indonesia, ketika mata dunia berempati dengan tragedi kemanusiaan di Kanjuruhan Malang pada Sabtu, 1 Oktober 2022. Sebuah kemunduran dari upaya memajukan sepakbola, melalui prestasi yang sudah mulai menunjukkan hasil.

Hari-hari berat persepakbolaan nasional akan dilalui sambil menunggu sanksi apa yang akan dijatuhkan oleh FIFA. Di satu sisi, untuk mengembalikan kepercayaan dunia terhadap sepak bola nasional, diperlukan kerja ekstra dari para pemangku kepentingan sepak bola.

Mungkinkah Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun depan akan dicabut oleh FIFA. Mungkin ya atau tidak, hanya waktu yang akan menjawab. Yang jelas, tragedi Stadion Kanjuruhan mencoreng kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah.
Image

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *